Perilaku Manipulatif Berkaitan dengan Gangguan Kepribadian Narsistik, Benarkah?

Perilaku manipulatif dan gangguan kepribadian narsistik memiliki keterkaitan, yakni sama-sama melakukan tindakan demi keuntungan pribadi. (Foto: iStock/Spancer Whalen)

PARBOABOA, Jakarta – Manipulasi merupakan cara yang dilakukan oleh seseorang (manipulator) untuk memengaruhi atau menyerang mental dan emosi orang lain.

Manipulator biasanya melakukan hal ini untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkannya sekaligus memperoleh kekuasaan dan kendali.

Tindakan manipulasi dapat terjadi dalam segala jenis hubungan, baik itu percintaan, pertemanan, hubungan orang tua, keluarga, serta sesama rekan kerja atau atasan dan bawahan.

Menurut Very Well Health, meski perilaku manipulasi nampaknya tak berbahaya, tetapi hal ini dapat menimbulkan hubungan yang melecehkan secara emosional.

Akibatnya, korban manipulatif akan merasa bersalah, cemas, lelah, bingung, terisolasi, dan bahkan depresi.

Ciri manipulatif di antaranya adalah berbohong, menyangkal, gaslighting, perilaku pasif-agresif, silent treatment, mengkritik, menyalahkan, guilt tripping, memberi sanjungan, dan projection.

Alasan Seseorang Berperilaku Manipulatif

Perilaku manipulatif secara umum dilakukan untuk melindungi ego, mekanisme pertahanan, gangguan kepribadian serta menghindari tanggung jawab terhadap konsekuensi dari tindakan mereka.

Di samping itu, dalam beberapa kasus, perilaku manipulasi berkaitan dengan gejala kondisi kesehatan mental berupa narcissistic personality disorder (NPD).

NPD sendiri adalah gangguan kepribadian yang ditandai dengan pola grandiose atau merasa sangat penting, kurangnya rasa empati, dan memiliki kebutuhan untuk dipuji serta diakui.

Dalam hal ini, ada juga NPD abuser, di mana individu yang mengidap NPD akan cenderung berperilaku merugikan dan manipulatif.

Bahkan, bisa melakukan kekerasan demi memperoleh keuntungan/memperkuat posisi mereka dalam hubungan interpersonal.

Dengan kata lain, NPD merupakan kondisi psikologis yang dimiliki oleh seseorang. Sedangkan NPD abuser adalah perilaku ataupun tindakan yang dilakukan individu pengidap NPD.

Kendati demikian, pengidap NPD tak selalu melakukan tindakan yang merugikan ataupun manipulatif.

Namun, NPD abuser seringkali melakukan dua hal tersebut sebagai dari kebutuhan manipulator guna mempertahankan rasa superioritas dan kontrol atas orang lain.

Gangguan kepribadian narsistik dapat mempengaruhi hubungan pertemanan, keluarga, dan lingkungan kerja.

Pasalnya, individu pengidap NPD akan sulit untuk bekerja sama, menerima kritik serta mempertahankan hubungan yang sehat dengan orang lain.

Selain itu, orang dengan NPD juga hanya akan memperhatikan kepentingan pribadi.

Dari penjelasan tersebut, perilaku manipulatif dan pengidap NPD dapat dikatakan memiliki keterkaitan.

Di mana, keduanya sama-sama melakukan tindakan hanya demi keuntungan pribadi dan cenderung ingin mengendalikan orang lain.

Editor: Maesa
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS