Penanganan Longsor Tak Optimal, Warga Tiga Kelurahan Geruduk Kantor Wali Kota Pematang Siantar

Masyarakat Jalan Suji Kelurahan Bane, Kecamatan Siantar Utara, melakukan aksi protes di Balai Kota Pematang Siantar. Aksi itu dilakukan karena belum optimalnya penanganan tanah longsor oleh Pemko Pematang Siantar yang membuat masyarakat resah. (Foto: PARBOABOA/Putra)

PARBOABOA, Pematang Siantar - Masyarakat tiga kelurahan di Kecamatan Siantar Utara menggeruduk Kantor Wali Kota Pematang Siantar untuk mempertanyakan tidak optimalnya penanganan tanah longsor di wilayah mereka, Rabu (23/8/230).

Menurut Koordinator aksi, Rapi Jonathan Pangaribuan, penanganan yang tidak optimal membuat masyarakat di kelurahan Banjar, Kelurahan Bane dan Kelurahan Kahean resah. Apalagi saat ini masuk musim penghujan.

"Soalnya musim hujan sekarang, kalau enggak dikeruk, pasti banjir dan penghubung jalan semakin terkikis, secepatnya bala bantuan dari pemerintah segera dihadirkan," ujarnya kepada PARBOABOA, Rabu (23/8/2023).

Diketahui jalan penghubung di Jalan Suji Memang terkena longsor dan nyaris putus, pada Rabu (16/8/2023). Lokasi jalan tersebut dekat dengan tepian sungai.

Rapi mengaku, akibat kejadian itu, banyak masyarakat yang tidak bekerja dan anak-anak tidak sekolah sejak kejadian longsor.

"Kami tidak kerja jadinya, anak-anak tidak sekolah karena basah saat air sungai meluap, semua terendam. Jangan dibiarkan gitu-gitu aja, tetap banjir, harus ada perhatian dan aksi nyata perbaikan dari Pemko," ucapnya.

Warga ingin agar Pemko Pematang Siantar menyediakan alat berat untuk membantu mengangkut pecahan beton yang longsor di pinggir sungai.

"Masyarakat tidak sanggup mengangkat beton-beton sisa longsoran tersebut. Beton longsor membuat air sungai meluap. Harusnya alat berat yang mengangkutnya," kesalnya.

Pantauan PARBOABOA, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pematang Siantar hanya menempatkan ban dan pembatas di sekitar lokasi longsoran agar tak dilintasi kendaraan.

Kendaraan yang melintas hanya bisa menggunakan satu jalur dan bergantian melintas dengan sistem buka tutup.

Warga lainnya, A. Marbun (30) meminta agar Pemko Pematang Siantar segera menurunkan alat berat untuk mengeruk sungai, agar tidak meluap.

"Permohonan kami, tolong secepatnya di antisipasi," katanya.

Ia mengaku warga terpaksa mandiri mengeruk sungai, agar tidak meluap saat hujan deras melanda.

Belum adanya penanganan, kata Marbun, membuat masyarakat merasa ketakutan akan bahaya longsor.

"Ada perhatian dan aksi lebih dari pemerintah secepatnya, jangan hanya sebatas kasih sembako, jadi diabaikan," kesalnya.

Sementara itu, Kepala Dinas BPBD Kota Pematang Siantar, Agustina Sihombing mengaku telah turun ke lapangan dan mencari solusi menangani musibah ini. Apalagi akses jalan menuju titik longsor sempit.

"Memang akses menuju ke situ sempit, ada jalan rusak parah sepanjang 5 meter, alat berat tidak dapat masuk. Jadi saat ini lagi mencari solusi dan penanganannya seperti apa," ungkapnya

Agustina juga menepis anggapan BPBD Pematang Siantar melakukan pembiaran.

Ia menegaskan, BPBD melakukan penanganan dan mengusulkan perbaikan jalan utama di Kecamatan Parungponteng yang mengalami longsor agar kendaraan bermotor bisa kembali melewati jalur itu.

"Kita tidak menutup mata atas hal ini, namun masyarakat harap bersabar sebab harus mengikuti prosedur-prosedurnya. Apakah anggaran perbaikan berasal dari BTT (bantuan tidak terduga) apa tidak, kita perlu mengikuti tahapannya," kata Agustina.

Ia menambahkan, BPBD juga akan menempatkan petugas untuk membantu masyarakat membersihkan reruntuhan beton yang longsor di aliran sungai.

"Untuk saat ini solusi tercepatnya kita akan letakkan 5 hingga 8 pegawai di 3 titik secara bergiliran membantu masyarakat melakukan gotong royong mengangkat puing-puing beton yang longsor," imbuh Agustina Sihombing.

Editor: Kurniati
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS