Kebencian di Balik Pembunuhan Danramil Lettu Oktovianus Sogarlay oleh OPM

Foto kelompok Organisasi Papua Merdeka. (Foto: Wiki OPM)

PARBOABOA, Jakarta - Motif pembunuhan Komandan Koramil (Danramil) 1703-04/Aradide, Lettu Oktovianus Sogarlay oleh kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) akhirnya terungkap.

Di balik penyerangan yang menewaskan Oktavianus ternyata ada motif kebencian. Hal itu terungkap setelah Satgas Operasi Damai Cartenz mengamankan seorang anggota OPM yang diketahui Bernama Anan Nawipa.

Kasatgas Humas Ops Damai Cartenz, AKBP Bayu Suseno mengatakan, berdasarkan keterangan Anan Nawipa, Oktavianus diserang karena OPM merasa benci dengan kehadiran TNI-Polri di wilayah tersebut.

"Pembunuhan terhadap Danramil 1703-4/Aradide karena mereka sangat membenci anggota TNI-Polri," kata Bayu, Senin (13/5/2024).

Tak hanya itu, Anan, berdasarkan penuturan Suseno telah secara terang-terangan mengakui bahwa ia dengan 6 anggota KKB lainnya yang membunuh Lettu Oktavianus.

Kelima teman Anan tersebut, yakni pimpinan KKB Paniai, Osea Satu Boma, Yegetaka Degei, Bonai Bon, Yakobus Nawipa, Kleibou Nawipa dan seorang lain yang berinisial UKM.

Anan juga mengakui selama ini ia merupakan anggota OPM aktif yang selalu mengikuti aksi-aksi yang dilakukan oleh KKB Paniai pimpinan Osea Satu Boma.

Sementara itu,  dalam kasus penyerangan yang menewaskan Oktavianus, peran Anan kata Bayu adalah memegang dan mengamankan HP milik Almarhum.

Bayu menambahkan, pelaku Anan Nawipa mengakui punya kedekatan dan telah sejak lama mengenal baik sosok korban. 

Pasalnya, kata dia, Oktovianus Sogalrey kerap membagikan sembako kepada warga yang tinggal di Kampung Ekadide.

Saking dekatnya ia dengan korban, jelas Bayu, Anan membantah tudingan Kodap XIII Kegepa Nipouda yang pernah menyebut Almarhum pernah memberikan racun kepada masyarakat.

Sebelumnya, Kapendam XVII/Cenderawasih Letkol Inf Candra Kurniawan  menyampaikan, peristiwa terbunuhnya oktavianus bermula saat korban keluar dari Makoramil 1703-4/Aradide pada Rabu (10/4) sore.

Namun, hingga Kamis (11/4) yang ia tak kunjung kembali.

Setelah dilakuakan pencarian, Oktovianus ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa di Distrik Aradide, Kabupaten Paniai, Provinsi Papua Tengah.

Anan sendiri kini dijerat dengan Pasal 340 KUHP, Subsidair Pasal 338 KUHP, Pasal 351 ayat (3) KUHP, pasal 170 ayat Jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 dan Pasal 56 KUHP. 

Ia bersama kawan-kawannya diduga melakukan pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman maksimal seumur hidup atau sekurang-kurangnya 20 tahun penjara.

Daftar prajurit TNI tewas di tangan OMP

Kematian Lettu Oktovianus Sogarlay sebenaranya menambah daftar panjang anggota TNI yang tewas di tangan OMP. 

Selama tahun 2024 saja, 5 anggota TNI dinyatakan tewas. Siapa saja mereka, berikut ulasannya.

Sertu Afriadi

Seorang prajurit TNI bernama Sertu Afriadi gugur ditembak OPM di Distrik Taganombak, Kabupaten Puncak Jaya, Papua Pegunungan awal Januari 2024.

Saat itu OPM masih disebut sebagai Kelompok Kriminal Bersenjata atau KKB. Kabar kematian Afriadi pertama kali disampaikan oleh Dandim 1714. Letkol Inf Irawan.   

Saat itu, Irawan menyampaikan, seorang prajurit Bernama Afriadi  telah gugur dalam pertempuran dan jenazahnya dievakuasi ke Mulia, ibu kota Kabupaten Puncak Jaya.

Bripda Alfandi Steve Karamoy

Bripda Alfandi Steve Karamoy adalah Anggota Satgas Damai Cartenz  yang tewas usai ditembak oleh OPM di Intan Jaya, Papua, pada 19 Januari 2024 lalu. 

Meski sempat mendapat pertolongan pertama di Puskesmas Sugapa, Alfandi tak dapat diselamatkan akibat luka tembak di bagian rahang kiri yang menembus rahang kanan.

Penembakan dilakukan oleh OMP pimpinan Apen Kobogau yang merupakan Wakil Pangkodap VIII. AKBP Bayu Suseno menerangkan, penembakan kemungkinan besar dilakukan dari arah belakang pos pengamanan Tower BTS Telkomsel, Bilogai, Sugapa, Intan Jaya, Papua.

Saat itu kata Bayu memang sempat terjadi kontak tembak selama kurang lebih 30 menit.

Praka Wahriadi

Kontak senjata antara TNI dengan OPM kembali terjadi pada 22 Maret 2024. Insiden ini mengakibatkan seorang anggota TNI bernama Praka Wahriadi gugur. 

Juru Bicara OPM, Sebby Sambom mengatakan, kontak senjata itu terjadi di Kenyam, Kabupaten Nduga, Papua. Ia mengklaim dalam penyerangan tersebut OPM melukai dua anggota TNI dari Batalyon Infanteri Raider 323/Buaya Putih, satu di antaranya tewas yakni Praka Wahriadi. 

Tak hanya itu, Sebby bahkan menyampaikan TPNPB Kodap III Ndugama Derakma sendiri siap bertanggung jawab atas tewasnya personel TNI Batalyon Infanteri Raider 323 dan sejumlah personel TNI yang mengalami luka tembak dalam serangan tersebut.

Tak hanya itu Sebby juga menyampaikan pesan kepada pemerintah Indonesia untuk segera menyelesaikan persoalan konflik bersenjata di tanah Papua, termasuk pembebasan pilot Susi Air.

Sertu Ismunandar

Sementara itu, baku tembak yang terjadi di Kampung Kulirik, Distrik Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Papua pada 77 Maret 2024  menewaskan seorang prajurit TNI, Sertu Ismunandar.

Dalam keterangan resmi TNI, korban merupakan anggota Satgas Elang IV Wilayah Puncak Jaya. Ismunandar tertembak saat berangkat menuju Distrik Muara, Kabupaten Puncak Jaya menggunakan sepeda motor.  

Editor: Gregorius Agung
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS