Mengenang Kerajaan Sidabutar di Tanah Batak

Suasana makam Kerajaan Sidabutar di Tomok. (Foto: PARBOABOA/David Rumahorbo

PARBOABOA, Samosir- Suasana di sekitar makam Raja Sidabutar begitu menarik dan penuh dengan keajaiban budaya. Saat matahari perlahan tenggelam, sinar senja yang memancar memberikan kilauan magis pada bangunan megah makam kuno itu.

Di sekitar area pintu gerbang, penjual aksesoris Batak menata dagangan mereka dengan cermat, berharap menarik perhatian para pengunjung yang datang untuk mengunjungi makam yang terkenal itu.

Berada di lokasi makam, tumpukan batu ukiran kian unik tersusun memanjakan mata. Dengan corak yang berbeda, batu demi batu disusun berdasarkan letak dan kisahnya.

Berbeda dengan makam pada umumnya, tumpukan batu itu adalah makam dari pada Raja Sidabutar bersama dengan keturunan dan hulubalang (pengawal raja).

Tanpa kehadiran seorang pun, aura kebesaran terpancar dari makam tersebut. pesonanya membuat siapapun yang melihat pasti terpikat. Makam itu menyimpan banyak cerita dan kenangan.

Daprosa Harianja, seorang pemandu lokal di kawasan makam Raja Sidabutar menjelaskan setiap makna yang terkandung dalam makam raja.

Pria berusia 40 tahun itu mengatakan mengenang Kerajaan Sidabutar tak luput dari sejarah Desa Tomok itu sendiri. Tomok berarti tanah yang subur atau gemuk sehingga dapat memberikan penghidupan bagi masyarakat yang mendiaminya.

Di Tomok ada danau yang memberikan ikan, tanah yang bagus untuk ditanami padi. “Tomok itu artinya subur atau gemuk. Artinya masyarakat bisa hidup,” ujar pria yang sangat menekuni profesinya itu, kepada PARBOABOA, Sabtu (06/04/2024).

Dalam hierarki Kerajaan Sidabutar, raja pertama dari keluarga Sidabutar adalah Ompu Soribuntu Sidabutar. Dalam makamnya, terdapat patung batu seorang anak kecil yang berada di pundaknya.

Daprosa menyampaikan bahwa dalam kebudayaan batak, seorang kakek akan menempatkan cucu di atas pundaknya sebagai wujud kebanggaan. Kemudian dia mewariskan tahta kepada cucunya yang bernama Raja Ujung Barita Naibatu Sidabutar.

"Sebenarnya Ompu Soribuntu Sidabutar memiliki anak. Namun karena orang batak lebih mendominankan cucunya, dan cucunya punya kekuatan, maka diwariskan ke cucunya," tuturnya

Di atas makamnya, terdapat bendera batak yaitu merah hitam dan putih. Merah diartikan sebagai keberanian. Putih melambangkan kesucian sedangkan hitam melambangkan kebijaksanaan.

Generasi kedua dalam Kerajaan Sidabutar adalah Raja Ujung Barita Naibatu Sidabutar. Sesuai namanya, kemasyhuran Raja Ujung Barita telah terdengar ke seluruh penjuru dunia.

Raja Ujung Barita Naibatu Sidabutar memiliki pengawal nan setia yaitu Tengku Muhammad said. Seorang keturunan aceh yang senantiasa menjadi kepercayaan Raja.

Untuk mengenang jasa Tengku Muhammad Said, Raja Ujung Barita membuat patung pengawal setianya itu di dalam makamnya.

Keturunan dari Raja Ujung Barita Naibatu Sidabutar selanjutnya adalah Ompu Solompoan Sidabutar. Berbeda dari raja sebelumnya, Raja Solompoan Sidabutar telah mengenal agama berkat misionaris Eropa yang dikenal dengan nama Nomensen.

Bahkan, makam Raja Solompoan sudah memiliki simbol Salib sebagai identitas kekristenannya. Sedangkan makam Raja Ompu Soribuntu Sidabutar dan Raja Ujung Barita Naibatu Sidabutar hany terdapat bendera putih merah dan hitam di atas makamnya. Bendera itu menjadi simbol dari kerajaan batak.

Kisah CInta Raja Ujung Barita

Dalam makam Raja Ujung Barita, terdapat sebuah miniatur yang mencolok. Rambut panjang dan noda merah pada makamnya, menyimpan cerita mendalam tentang kesaktian Raja Ujung Barita Naibatu Sidabutar.

Dari cerita pemandu wisata, diketahui bahwa rambut panjang yang dimiliki Raja Ujung Barita mempunyai kekuatan. Kekuatannya menjadi senjata ampuh dalam mengalahkan musuh-musuhnya. Setiap musuh yang dikalahkannya akan meninggalkan noda darah di wajah sebagai tanda kejayaan.

Raja Ujung Barita tidak hanya dikenal karena kekuatannya. Dalam makamnya, juga terdapat sosok wanita dengan cawan di kepala. Tunangannya, Anting Malela Sinaga yang menjadi perhatian banyak raja lain karena kecantikannya.

Kondisi peperangan yang sedang dia hadapi menyisakan jarak kepada sang gadis. Banyaknya raja yang ingin mempersunting Boru Sinaga membuat murka Raja Ujung Barita.

Dirundung amarah, Raja Ujung Barita memutuskan agar Anting Malela Sinaga tidak dimiliki seorangpun. Keputusannya ini membuat Anting Malela Sinaga menjadi gila. Namun kisah cinta Raja Ujung Barita akhirnya mencapai titik terang saat ia menemukan cinta sejatinya pada Boru Samosir.

Meja Persidangan Sebagai Payung Hukum Tertinggi

Pada mulanya kerajaan Sidabutar memeluk kepercayaan animisme. Masyarakat sekarang ini mengenalnya sebagai agama Parmalim untuk kepercayaan bangso (bangsa) Batak kepada nenek moyang.

Dalam sistem kerajaan Sidabutar, seorang yang bersalah akan dibawa ke meja persidangan. Bagi mereka yang terbukti bersalah, hukuman kepala dipenggal menjadi tak terhindarkan. Namun, lebih dari sekedar hukuman, proses persidangan melibatkan serangkaian ritual.

Meja persidangan tidak semata-mata sebagai tempat mengumumkan hukuman. Dalam penerapannya, para raja akan berkumpul untuk memberikan keputusan terhadap terdakwa yang bersalah.

Tarian Tor-Tor pun turut andil di dalamnya. Rangkaian ritual adat akan dilakukan dengan dentuman gendang, melodi seruling, dan gemuruh ogung (gong).

Sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, upacara adat juga dilakukan dengan mempersembahkan persembahan yang berarti. Salah satunya adalah ritual penyembelihan babi, yang diyakini sebagai tindakan pemujaan dalam menjamin keberuntungan dan perlindungan bagi kerajaan.

Editor: Fika
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS