Konflik dengan Iran, Israel Tetap Serang Palestina

Ilustrasi serangan yang masih dilakukan oleh Israel kepada Palestina. (Foto: PARBOABOA/Fika)

PARBOABOA, Medan – Semua mata kini tengah tertuju pada perang antara Iran dan Israel. Di mana keduanya baru saja saling menyerang.

Meski begitu, Israel nyatanya masih gencar menggempur Palestina, khususnya di Gaza tanpa henti.

Dikutip dari laman BBC, Selasa (23/04/2024), hingga saat ini penduduk Palestina khususnya Gaza masih terus menghadapi segala serangan yang dilancarkan oleh Israel. Setiap harinya, puluhan warga Palestina masih terus meregang nyawa. Bahkan, menurut data Kementerian Kesehatan Hamas dari puluhan warga Palestina yang gugur sebagiannya adalah anak-anak.

Sejak Oktober 2023 lalu, Kementerian Kesehatan Hamas menyebutkan sebanyak 34 ribu orang lebih warga Palestina telah gugur. Pasukan Israel tanpa henti terus berupaya menghancurkan Hamas.

Seperti yang terjadi pada pertengahan April lalu di mana kamp pengungsi al-Maghazi diserang oleh pasukan Israel. Kejadian ini mengakibatkan puluhan orang tewas dan luka-luka.

Penembakan di kamp pengungsi al-Maghazi menewaskan 12 orang meninggal dan 30 lainnya mengalami luka.

Padahal, dari keterangan salah seorang pengungsi, dinyatakan bahwa posisi para korban itu berada jauh dari pasukan Israel. Bahkan, saat peristiwa itu terjadi anak-anak sedang bermain di jalanan.

Terkait peristiwa ini, pasukan militer Israel tidak mengeluarkan komentar apapun. Militer Israel mengklaim tujuan mereka adalah mengeliminasi teroris dan menghancurkan infrastruktur. Misalnya terowongan dan komplek militer bersenjata yang digunakan kelompok Hamas.

Selain itu, di ujung utara Gaza, beberapa tank Israel kembali meluncur ke Beit Hanoun walaupun daerah ini sebelumnya sudah ditinggalkan. Lagi-lagi Militer Israel mengeluarkan klaim sedang menargetkan Hamas dan kelompok Jihad Islam yang menggunakan beberapa sekolah tempat para pengungsi tinggal.

Para pengungsi menceritakan kalangan laki-laki yang ditelanjangi dan ditahan oleh militer Israel.

Bahkan, ada rekaman serangan Israel di beberapa bagian Kota Gaza, di utara dan Rafah yang berbatasan dengan Mesir. Padahal, ada ratusan ribu warga Palestina yang kini tinggal di tenda-tenda pengungsi di Rafah.

Sesuai kesepakatan dengan Amerika Serikat, Analis Pertahanan Israel mengatakan akan menurunkan intensitas pertempuran dengan cara mengurangi beberapa operasi militer yang menyasar Hamas.

Pada awal bulan April, Israel telah menarik mundur sebagai pasukan darat di Gaza. Hanya ada satu brigade yang tersisa untuk mengamankan garis yang membagi wilayah antara utara dan selatan.

Pasukan militer Israel berjanji untuk membasmi sisa-sisa kelompok Hamas di Rafah. Di mana Rafah merupakan satu-satunya kota di Gaza yang belum diserang oleh pasukan darat Israel.

Menurut Amerika Serikat dan sekutunya, invasi skala besar akan memperuncing krisis kemanusiaan yang terjadi di Palestina yang semakin parah.

Pada Senin (22/04/2024), pasukan militer Israel sudah mengeluarkan peringatan agar warga Gaza tidak bepergian. Peringatan ini dikeluarkan ketika para saksi mata mengaku pasukan Israel melepaskan tembakan ke kerumunan orang yang sedang berjalan menuju jalan utama. Peristiwa ini menewaskan lima orang warga Palestina.

Tidak ada komentar apapun dari pasukan militer Israel atas peristiwa ini. Akan tetapi, setelah peristiwa terjadi juru bicara Israel mengatakan bahwa warga Palestina harus berada di Gaza bagian selatan. Pasalnya, wilayah utara merupakan zona pertempuran yang berbahaya.

Diketahui, kini sebagian besar wilayah di utara Palestina sudah rata dengan tanah. Hal ini terjadi akibat pertempuran terbuka yang sudah berlangsung selama lebih dari enam bulan. PBB juga mengatakan Israel membatasi pemberian bantuan kemanusiaan ke Palestina.

Sehingga, kondisi warga di wilayah utara yang berkisar 300 ribu orang itu kini mengalami bencana kelaparan.

Peristiwa tewasnya tujuh staf bantuan kemanusiaan dari yayasan amal Amerika Serikat, World Central Kitchen pada 1 April lalu menjadi pemicu tekanan internasional kepada Israel.

Serangkaian pengumuman tentang pengiriman bantuan ke Gaza semakin meningkat. Di antaranya adalah pembukaan pelabuhan komersial Ashdod dan fasilitas penyeberangan baru di wilayah utara.

Meningkatnya keinginan pemberian bantuan ke Palestina ini justru dibalas dengan berbagai anekdot. Seperti diumumkannya kedatangan pengiriman tepung untuk beberapa toko roti yang sudah mulai beraktifitas.

Bahkan, ada rekaman di media sosial yang memperlihatkan daging panggang yang dijual di kamp pengungsi Jabalia. Seolah ingin menunjukkan bahwa makanan di Palestina sudah semakin mudah didapat.

Walau begitu, berbagai lembaga bantuan mengaku masih banyak lagi yang perlu dilakukan untuk menangani bencana kelaparan dan krisis persediaan makanan.

PBB sendiri mengeluarkan permohonan untuk mengumpulkan dana sebesar 2,8 miliar US Dollar atau sekitar 45 triliun rupiah lebih khusus untuk Gaza.

Kepala Kantor Kemanusiaan PBB untuk Wilayah Palestina, Andrea de Domenico mengeluhkan akses yang masih sulit terutama untuk Gaza bagian utara. “Kita seperti sedang menari, ketika kita ambil satu langkah maju lantas harus dua langkah mundur. Atau dua langkah maju kemudian satu langkah mundur,” ujarnya.

Andrea de Domenico memperkirakan apabila konflik antara Iran dan Israel mereda, maka perhatian akan kembali beralih ke Gaza.

Mengingat saat ini upaya mediasi internasional untuk gencatan senjata masih terhambat. Di mana Israel masih akan memerangi Hamas hingga semua tereliminasi dan memulangkan sandera.

Sedangkan dari kubu Hamas tetap berkeras tidak akan melepaskan sandera apabila tidak ada komunikasi untuk menghentikan perang.

Editor: Fika
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS