Demokrat Resmi Dukung Prabowo, Komunikasi dengan PDIP Kembali Disinggung

Demokrat resmi dukung Prabowo Subianto pada Pilpres 2024. (Foto: Instagram/@prabowosubianto)

PARBOABOA, Jakarta - Partai Demokrat akhirnya melabuhkan dukungan ke Prabowo Subianto sebagai calon presiden (capres) di Pilpres 2024.

Dukungan itu disampaikan dalam kunjungan Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dan Ketua Umum Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) ke kediaman Prabowo di Hambalang, pada Minggu (17/9/2023).

"Partai kita telah resmi menerima bergabungnya Partai Demokrat ke dalam Koalisi Indonesia Maju," kata Ketua Harian DPP Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad, dalam keterangannya dikutip pada Senin (18/9/2023.

Dasco mengatakan, bergabungnya Demokrat ke Koalisi Indonesia Maju (KIM) merupakan suatu kehormatan bagi Gerindra, sekaligus menambah semangat koalisi untuk berjuang memenangkan Prabowo.

Karena itu, ia meminta untuk mempererat kerja sama dengan kader partai Demokrat di seluruh Indonesia sebagai teman seperjuangan yang pernah berkoalisi sebelumnya, yakni pada Pilpres 2019.

Dukungan Demokrat ke Prabowo Subianto juga dikonfirmasi Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrat Teuku Riefky Harsya, pada Minggu (17/9/2023).

Ketua Umum Demokrat, AHY, kata Riefky, akan menyampaikan sikap  resmi partai dalam rapat pimpinan nasional (Rapimnas) Partai Demokrat yang akan digelar pada 21 September mendatang. 

Langkah politik Demokrat menjadi sorotan setelah resmi mencabut dukungan untuk Anies Baswedan sebagai capres pada Pilpres 2024.

Keputusan tersebut imbas terpilihnya Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar alias Cak Imin sebagai cawapres Anies Baswedan.

Demokrat yang mengaku dikhianati setelah selama setahun membesarkan Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP), akhirnya memilih hengkang.

Selepas menarik dukungan untuk Anies, Demokrat mulai melakukan pendekatan politik ke beberapa partai, mulai dari PDIP yang mengusung Ganjar Pranowo, hingga Gerindra yang mengusung Prabowo Subianto.

Sejumlah rumor beredar, bahwa SBY akan membawa Demokrat ke gerbong PDIP. Hal ini tentu menjadi catatan baru dalam sejarah politik Indonesia selama satu dekade, di mana SBY berada pada satu koalisi yang sama dengan Megawati.

Sudah menjadi rahasia umum, hubungan keduan tokoh ini memang kerap pasang surut selepas konflik beberapa tahun silam. SBY dan Megawati bahkan jarang terlihat bersama dalam sejumlah momen penting kenegaraan.

Namun, SBY ternyata lebih memilih Prabowo yang merupakan 'sahabat lama' untuk kembali diusung pada Pilpres 2024 mendatang.

Pengamat sekaligus Direktur Eksekutif Institute for Democracy & Strategic Affairs (Indostrategic), Ahmad Khoirul Umam menilai, keputusan Demokrat memilih Prabowo dinilai lebih tepat dibandingkan mendukung Ganjar Pranowo.

Khoirul mengatakan, berdasarkan data survei pasca berpisahnya Demokrat dari gerbong pencapresan Anies Baswedan, basis pemilih loyal Demokrat lebih banyak mendukung Prabowo ketimbang Ganjar.

Beberapa waktu sebelumnya, kata Khoirul, sejumlah elite Demokrat menyampaikan preferensi arah dukungan kepada pencapresan Ganjar Pranowo.

Namun, partai belambang bintang mercy itu akhirnya memutuskan mendukung Prabowo Subianto.

Menurut Khoirul, gagalnya arah dukungan Demokrat ke Ganjar Pranowo karena masih buntunya komunikasi dua arah antara PDIP dan partai besutan SBY itu.

Khoirul menilai, Demokrat tampak kerepotan mengakses komunikasi langsung dengan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri, yang menjadi veto player sekaligus penentu arah gerbong koalisi Ganjar. 

Hal ini dipengaruhi oleh adanya barikade kuat di lingkaran Megawati yang membuat komunikasi politik PDIP kurang fleksibel. Selain itu, kata dia, mungkin saja "Megawati belum selesai dengan dirinya ketika menyikapi sejarah konflik politik masa lalu." 

Karenanya, kondisi ini, kata  Khoirul, berdampak pada cara pandang Demokrat yang menghendaki koalisi yang setara dan saling menghormati.

Di sisi lain, Demokrat juga sering menempatkan dirinya pada basis paradigma politik tengah-moderat, yang lebih dekat dengan koalisi Prabowo yang mengklaim spektrum tengah saat ini.

Sedangkan, PDIP sebagai pengusung utama Ganjar Pranowo yang telah mengklaim diri sebagai gerbong kiri-Progresif, dan Anies yang lebih kuat merepresentasikan kekuatan politik Islam.  

Karena itu, wajar jika Demokrat merasa tidak ada hambatan serius secara ideologis ketika melabuhkan dukungan ke Prabowo Subianto.

Prabowo saat ini mendapat dukungan dari empat partai di parlemen. Keempat partai itu yakni Partai Gerindra, Golkar, PAN, dan Demokrat.

Ada dua partai lainnya yang mendukung mantan Danjen Kopassus itu, yakni Partai Gelora dan PBB, namun tak memperoleh kursi di parlemen. 

Dukungan keempat partai di parlemen tersebut sudah melampaui ambang batas presidential treshold sebesar 20% atau 115 kursi di DPR.

Berikut peta kekuatan Prabowo berdasarkan jumlah kursi parpol pendukung yang duduk di parlemen:

Fraksi Gerindra 78 kursi/13,59%
Fraksi Golkar 85 kursi/14,81%
Fraksi PAN 44 kursi/7,67%
Fraksi Demokrat 54 kursi/9,41%

Total: 261kursi/45,42%

Editor: Andy Tandang
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS